Di era digital saat ini, masalah pelanggaran privasi, terutama dalam konteks kebocoran data, telah menjadi perhatian utama. Ketidaktahuan pengguna tentang praktik pengelolaan data dan privasi sering kali menyebabkan kebocoran data, yang dapat dipengaruhi oleh tingkat literasi privasi mereka. Orang-orang yang lebih memahami risiko privasi cenderung lebih proaktif dalam melindungi informasi pribadi mereka, sementara orang-orang yang kurang memahaminya mungkin lebih rentan terhadap kebocoran data [1],[2]. Selain itu, peningkatan digitalisasi tempat kerja menimbulkan kekhawatiran tentang privasi karyawan. Banyak yang percaya bahwa penggunaan teknologi digital mengancam privasi mereka [3], [4]. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan dan pendidikan yang lebih baik diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman pengguna tentang privasi, terutama generasi muda, yang sering dianggap sebagai pendatang baru di dunia digital [1],[5].
Lebih jauh lagi, pengguna dapat mengalami kebocoran data karena tidak memahami aplikasi yang mereka gunakan. Aplikasi tertentu mengumpulkan data pribadi secara pasif, yang dapat membahayakan privasi [6],[7]. Studi menunjukkan bahwa pengguna seringkali tidak memperhatikan risiko privasi saat menginstal aplikasi, yang dapat menyebabkan keputusan yang tidak sadar dan berbahaya [7]. Oleh karena itu, sangat penting untuk membuat pendekatan yang dapat membantu pengguna menjadi lebih sadar privasi, seperti nudges dan boosters yang dapat mendorong perilaku perlindungan privasi yang lebih baik [8],[9]. Dengan memahami dan menyelesaikan masalah ini, kita dapat membuat lingkungan digital yang lebih aman dan melindungi hak privasi orang dengan lebih baik.
Sumber: